Mujizat Itu Nyata

Motivasi - Mujizat Itu Nyata20 Maret 2015, keajaiban terjadi dalam hidupku.

Selama 9 bulan hamil 9 bulan itupun aku mengalami morning sickness. Sebenarnya bukan morning sickness tapi everytime sickness.

Gak pagi gak siang gak malam kalo mau muntah ya muntah aja. Sering mual karena bau parfum suami. Tiba-tiba muntah di jalan karena bau bakso. Bakso adalah makanan favoritku tapi selama hamil itu adalah makanan yang paling aku jauhi. Dengar orang bicara bakso aku bisa membayangkan bau bakso dan itu membuatku muntah.

1 bulan sebelum melahirkan aku sudah cuti dari pekerjaan karena perutku buesar berat dan sering sakit pinggang sakit perut hadeeeeeehhhh ada aja sampai ada orang yang bilang aku manja.Aku mengalami tekanan darah tinggi 150/100 kemudian turun drastis jadi 90/70 pokoknya ada aja. Hari pertama cuti suami telpon orang tua ku untuk menjemputku karena dia tidak tega aku di rumah sendirian. Jadi hari hariku dengan perut besarpun aku lewati di kampung halaman.

HPL pun ditentukan. dokter bilang bisa maju 2 minggu atau mundur 2 minggu. Selama hamil aku suka melakukan perjalanan. Naik sepeda motor maupun naik mobil. Seminggu sebelum HPL aku pulang ke rumah kami untuk mengambil beberapa surat-surat penting. Itu sebenarnya hanya alasanku supaya aku bisa travelling aja hehehehee...

Pas hari yang diitung datang, aku kontrol ke rumah sakit. Pas di USG dilihat baby masih santai diatas belum turun ke panggul. Dokter memberi opsi supaya dioperasi karena melihat kondisi baby yang besar dan postur tubuhku yang imut. Aku antara mau dan tidak. Aku mencatat hal-hal yang diperlukan jika operasi. Aku cek ke Laboratory juga. Aku percaya setiap anak akan mencari jalan keluarnya sendiri. Kan gak mungkin dia di dalam terus. Setiap malam aku berdoa, aku mengajak baby di perut berdoa supaya baby mau keluar. Aku ajak dia ngobrol. Aku bilang bunda dan ayah pengen peluk baby, ayo keluarlah, jangan lama-lama di perut. Ayahnya pun kalo weekend pulang ke kampung halaman dia pasti ngajak ngomong baby dan mengelus-elusnya.

Minggu itu adalah minggu mengerjakan nilai rapot murid sekolah. Jadi seminggu itu aku sibuk mengerjakan nilai rapot. terakhir yang masuk adalah nilai PJOK (olahraga). Gurunya mengirim nilai hari Kamis. Seharian aku finishing rapot. Sore selesai dan perutku bergerak gerak terus. Aku jalan-jalan keluar masuk rumah karena capek juga duduk mengerjakan rapot. Jam 9 malam aku tidur tapi tidak bisa tidur, seperti biasa aku mendengarkan radio ludruk. Gak tau kenapa waktu itu setiap malam aku suka dengerin ludruk. HP tidak aku caz karena masih mendengarkan radio.

Jam 1 malam baby di perut bergerak kenceng kemudian ada bunyi "krak" lembut. Kemudian perutku mulai mulas. Perasaanku kok gak enak. Aku mau membangunkan orang tuaku. Pas turun dari kasur darah mengalir banyak. Tapi aku berusaha santai. Aku berjalan ke kamar orang tuaku membangunkan mereka. Itu darah sudah banyak keluar. HPL nya Selasa dan hari itu Jumat. jadi 3 hari setelah HPL. 
Adikku dan ibuku membawaku ke rumah sakit. Untungnya rumah sakitnya dekat hanya 100 meter dari rumah. Aku dibawa ke UGD diperiksa pembukaan 2. 

Sakitnya WOW banget. sepanjang malam rumah sakit berisik karena suara kesakitanku. Jam 7 pagi aku dibawa ke ruang bersalin. Sakitnya masih banget dan kalo ingat itu aduh ya ampun sakitnya kayak gitu ya. Di ruang bersalin ada ibu-ibu usia 50 tahun dan dia melahirkan anak ke-5. Dia sudah pengalaman jadi santai. Lha aku ini yang pertama walah pengen teriak teriak kok gak enak juga sama ibu itu dan sama bidan-bidan disitu. Ruangannya sepiiiii banget. Hiks hiks aku mulai nangis. Kemudian bidan-bidan mengajariku bernafas untuk menahan sakit dan supaya aku tidak berteriak karena tenagaku bisa habis sedangkan aku perlu banyak tenaga. 

Perjuanganku waktu itu rasanya mau operasi saja. Sakit banget haduuuuuuuuhhhhh sepertinya sudah bekerja keras tapi baby blum keluar juga. Aih aih aih hampir putus asa. Kemudian ada bidan yang mengingatkan untuk menyebut Tuhan. Aku pun teriak Tuhan tolong Tuhan tolong. wuuuppppsss, eeeeehhhh tak terasa baby sudah keluar. Tangisnya keras sekali. Perasaanku waktu itu lega tapi aduh belum selesai perjuanganku karena aku harus menerima jahitan tanpa dibius. Teriakanku sama kerasnya dengan tangis baby boy ku. 

Setelah baby dibersihkan aku lihat wajahnya lucu banget, pipi chubby, rambut lebat, matanya persis mataku, bibirnya sama bibir ayahnya. Anda tau pemirsa berapa berat baby boy ku, hahahahaaaaa beratnya 4Kg dan tingginya 51cm. Tinggiku 150cm sebelum hamil beratku 40Kg pas hamil jadi 55Kg. Aku pikir pantesan keluarnya susah banget.

Foto di atas itu Alessio ketika usia 2 hari setelah melihat dunia. Itulah mujizat yang terjadi dalam hidupku. Setelah melahirkan baru aku bisa memberi kabar ke suamiku. Dia langsung ke rumah sakit tapi nyampe rumah sakit malam karena kalo kerja HP nya di taruh loker dan baru baca sms selesai jam kerja. Perjalanan ke kampung halaman perlu waktu 2,5jam. Kami sudah menyiapkan nama jadi malam itu juga suamiku memberitau keluarganya dan langsung memberitau namanya baby boy ku, yaitu: Alessio Victory Brilian Saggio. Mujizat itu nyata.

Belajar Bersyukur dan Tidak Mengeluh

Motivasi-Belajar Bersyukur dan Tidak Mengeluh
Pada hari Minggu kami sekeluarga melakukan perjalanan ke Batu. Selama perjalanan yang paling excited adalah Alessio. Senyum dan tawanya teruuuussss di sepanjang perjalanan padahal waktu kami mau berangkat harus membangunkan Alessio yang terlelap supaya dia mandi dan makan sebelum berangkat. 

Di tengah perjalanan Alessio tidur hingga sampai tujuan dia bangun. Turun dari mobil dia masih tetap bersemangat dan lebih bersemangat lagi karena ada halaman luas di tempat baru yang di pikirannya dia mau explore tempat itu. Yupzz Alessio jalan terus kesana kemari dan ayahnya yang mengikutinya pun sampai kelelahan. Kami heran anak kecil kok gak capek ya????. Akhirnya aku pun menyetopnya. Stop!! Alessio harus simpan tenaga karena masih ada tempat lain yang akan dikunjungi.

Setelah makan siang kami melanjutkan perjalanan. Mobil kami AC tidak bekerja dengan baik jadi udara panas di dalam mobil. hampir semua mengeluh gerah, panas dan hanya Alessio yang tidak mengeluh. Ya iya lah dia kan belum bisa bilang "bunda panasssss". Tapi setidaknya dia kan bisa rewel. tapi no no no, dia masih tetap bersemangat.

Di tempat wisata hujan rintik rintik, udara mulai dingin untuk kami yang biasa tinggal di kota yang terkenal panasnya. Alessio batuk batuk jadi rencana untuk berenang batal. Setelah kami menikmati wisata santai di tempat itu kami pulang. Alessio masih tetap bersemangat. Dia berjoget dengan lagu di mobil.
Perjalanan pulang kami lancar. Tidak macet. Hari mulai gelap. Alessio pun ngantuk dan tidur lelap di pangkuan ayahnya. Sekitar 1 jam kemudian Alessio bangun. And you know what? dia masih sangat bersemangat. Dia bicara di bahasa bayi. mungkin juga dia menyanyi waktu itu.

Yang kami pelajari dari Alessio adalah dia tidak mengeluh dengan situasi apapun. Apakah karena dia belum bisa bicara? aku pikir tidak juga. Kalo dia capek atau pusing dia bisa rewel atau menangis. Tapi Alessio tidak rewel dan tidak menangis sama sekali.
Kalo bisa bicara dia pasti sangat senang dan bersyukur karena hari itu dia jalan-jalan. Waktu mau tidur aku perhatikan dia tertawa tertawa, wajahnya menunjukkan sukacita. Dia pasti merasa senang dan nyaman bersama orang tuanya

Sering kita mengeluh untuk situasi atau hal hal yang tidak nyaman yang terjadi pada kita hingga kita tidak sempat untuk bersyukur. Kita lupa dengan kehadiran Tuhan yang selalu bersama dengan kita. Jika kita mengeluh dan  mengucapkan kata negatif maka otak kita akan menerima itu dan direspon tubuh kita dengan yang negatif pula. Tapi jika kita selalu bersyukur dan mengucapkan kata-kata yang memberkati maka hidup kita akan lebih santai.

Murid murid les ku beberapa anak kadang kadang bilang miss, aku gak bisa. Aku selalu mendukung mereka untuk terus berusaha dan pasti mereka bisa karena ada guru yang membimbing mereka. Jadi aku memberitau murid-murid untuk tidak bilang gak bisa atau capek lagi. Sekarang mereka lebih bersemangat. WOW itulah kekuatan perkataan kita.

Aku berusaha untuk bersyukur dalam segala hal dan berusaha tidak mengeluh jika situasi sulit karena aku yakin Tuhan jauh lebih besar dari masalah masalahku apapun itu.

O ya, waktu perjalanan wisata itu Alessio memang lebih sering sama ayah karena waktu itu bundanya teler, mabuk kendaraan hahahhaaaaa . Sampai besoknya pusing dan mualnya masih terasa tapi hati senang melihat semangat dan kelucuan Alessio dan ayahnya. Aku dan ayah Alessio pikir, nih anak (Alessio) tenaganya banyak banget yak kok gak capek capek kayak batrei baru dicaz terus

Komitmen Kami Sebagai Orang Tua

Komitmen Kami Sebagai Orang Tua
Dua tahun kami (aku dan suami) berdoa dan berusaha untuk hadirnya seorang anak. setelah 2 tahun hadirlah anak kami tercinta Alessio Victory Brilian Saggio.

Well, arti nama dulu yak, Alessio artinya suka menolong, Victory artinya kemenangan, Brilian artinya cerdas, Saggio artinya bijaksana (kami ambil dari nama terakhir ayahnya "Wicaksono" yang artinya bijaksana di bahasa Jawa).

Setelah Alessio lahir sesuai komitmen kami untuk memberi yang terbaik bagi Alessio, aku resign dari sekolah tapi tentu saja setelah menyelesaikan rapotan murid-murid karena aku punya tanggung jawab kepada murid-muridku di sekolah.

Aku kemudian menjadi seorang ibu rumah tangga. sebelum memutuskan untuk tidak bekerja "jadi pegawai" aku dan suami sudah menyiapkan rencana untuk aku supaya tetap produktif dan tetap punya penghasilan. Kami buka Les Victory yaitu les bahasa Inggris dan bimbingan belajar disitu aku mengajar full by myself.

Dengan iman aku mulai mengajar di Les Victory. enaknya aku bisa kerja sambil tetap bisa mengawasi Alessio. Tuhan memberkati kami. Datanglah murid-murid baru. Jadi ilmu yang aku dapat dari Universitas dari pengalamanku selama menjadi guru tetap bisa aku pakai. Setiap murid yang datang aku yakini itu adalah anugerah yang Tuhan percayakan kepadaku jadi aku harus mengajar dan mendidik mereka even aku menjadi teman buat mereka.

Kami bersyukur, aku bisa merawat Alessio sendiri. mengikuti perkembangannya setiap hari. mendidiknya sesuai dengan keyakinan kami. Setiap hari itupun aku bersyukur karena Alessio pertumbuhan dan perkembangannya amazing.

Terlahir menjadi wanita adalah anugerah. Meskipun wanita setelah menikah akan menjadi istri dan menjadi ibu rumah tangga wanita harus pintar. Karena dia akan mendidik anak-anaknya. Meskipun berkutat dengan pekerjaan rumah tangga dan label "sudah laku" wanita harus tetap menjaga kesehatan, kecantikan dan penampilan untuk menyenangkan suami. Dan ibu rumah tangga pastinya punya ketrampilan, keahlian khusus yang bisa dikembangkan supaya tetap produktif dan bisa menghasilkan, ehem kalo ini supaya tetap bisa ke salon dan shopping tanpa mengambil uang belanja dari suami hehehehee...

Tuhan memberkati kami sangat luar biasa dengan kehadiran Alessio. Dan sesuai komitmen kami, anak adalah tanggung jawab kami sebagai orang tua, jadi kami tidak menitipkan kepada mbahnya atau kepada orang lain. So far, kami bangga dan kami puas dengan komitmen kami dan keputusan kami.

Aku juga sangat bangga dengan suami yang selalu mendukung ide ideku dan ketika aku mulai panik jika isi ATM menipis suamiku dengan santai dan imannya yang besar selalu bilang "Tuhan akan cukupkan". hahahahaa... it works a lot. dan selalu memang itu yang terjadi. Apa yang tidak pernah terpikirkan olehku itu yang Tuhan sediakan buatku.